Penggila Football Manager Jadi Pelatih Ligue 1, Simak Sosok Will Still
Penggila Football Manager Jadi Pelatih Ligue 1, Simak Sosok Will Still

Penggila Football Manager Jadi Pelatih Ligue 1, Simak Sosok Will Still


Warning: Undefined array key "tie_hide_meta" in /home/u992852709/domains/kontermini.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Warning: Trying to access array offset on value of type null in /home/u992852709/domains/kontermini.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Sebuah kisah menarik telah muncul dari dunia Ligue 1. Sutradara muda Will Still menarik perhatian. Karena dia didenda setiap memimpin tim Lance.

Denda itu dijatuhkan oleh otoritas sepak bola Prancis, karena Still belum mengantongi lisensi UEFA Pro. Sesuai aturan, kalau setiap pelatih di kompetisi top Eropa, harus memegangnya dan jika tidak, maka disanksi 22 ribu poundsterling atau setara Rp403 juta, setiap laganya.

Namun, Reims memutuskan untuk melanjutkannya. Sebab, performa Reims di bawah Will Still cukup menjanjikan. Bayangkan, dari 17 laga yang dipimpin Will Still, Reims cuma kalah sekali.

1. Bangun karier pelatih dari Football Manager

Kecerdasan Still dalam meramu strategi sebenarnya terbilang unik. Dia belajar ilmu kepelatihan dari game Football Manager.

Saking sukanya dengan game tersebut, Still sering tidur dini hari akibat terlalu asyik bermain. Tapi, kegemarannya main Football Manager justru berdampak positif.

“Saya cuma anak biasa yang main Football Manager. Saya menghabiskan waktu semalaman, ketika sudah memasuki pukul 22.00, selalu berpikir, ‘Oke, satu pertandingan lagi’. Tapi, tiba-tiba sudah pukul 04.00,” ujar Still dikutip Daily Mail.

2. Imajinasi game jadi kenyataan

Still mulai menimba ilmu kepelatihan sejak usia 17 tahun. Dia pindah dari Belgia ke Preston, Inggris, dan belajar di Universitas Myerscough, dan melatih Preston North End U-14.

Dari sini, insting kepelatihannya dipertajam. Pria berdarah Inggris itu jadi lebih mengerti bagaimana mengelola sebuah tim sepak bola.

“Saya menyadari, hal gila di dalam game, ternyata bisa jadi kenyataan,” kata Still.

3. Tak minder meski “anak ingusan”

Still merupakan pelatih termuda kompetisi top Eropa saat ini. Usianya bahkan lebih muda dari Lionel Messi, 30 tahun.

Baca Juga :  Segini Kisaran Harga Dan Spesifikasi Rubicon Yang Sering Di Pamer Dandy Satrio

Hingga sekarang, Still masih memburu lisensi kepelatihannya. Meski dibilang “anak ingusan” dalam dunia kepelatihan, Still tak minder.

“Klub sudah bilang, ‘Kami siap untuk berinvestasi dalam kariermu, asalkan bisa terus menang!’,” canda Still.

4. Kaget bisa imbangi PSG

Sejauh ini, prestasi terbaik Still adalah membuat Reims selamat dari kekalahan melawan Paris Saint-Germain, 30 Januari 2023 lalu. Kala itu, Folarin Balogun, jadi penyelamat Reims dengan golnya di masa injury time.

Still tak percaya itu bisa dilakukannya. Sebab, PSG dijejali pemain berkualitas macam Lionel Messi, Kylian Mbappe, Neymar, dan lainnya.

“Anda pasti memikirkan seharian hasil ini. Bagaimana bisa, saya melatih tim dengan melawan orang-orang macam ini,” kata Still.

5. Analisis video, keunggulan yang dimiliki Still

Kelebihan Still adalah analisis permainan lawan lewat video. Manajemen Reims menyadarinya sejak awal, makanya langsung memberikan tawaran buat menjadi asisten pelatih terlebih dulu, pada 2020 lalu.

Saat melatih di akademi, Still dianggap punya gaya yang khas, menempatkan energi lebih dalam tim.

“Saya belajar dari seorang pelatih di Belgia, Yannick Ferrera. Dia yang meminta saya untuk menganalisis video dan lainnya. Karenanya, karier saya menanjak. Reims suka dengan bagaimana saya menggelar latihan. Tapi, saat itu awalnya sudah ada yang memiliki kemampuan analisis. Jadi, saya membantu dari level bawah,” kata Still dikutip The Guardian.